Mengajarkan Agama Kepada Anak

Anak terlahir dalam kondisi suci dan orangtuanyalah yang membuat mereka jadi beriman atau tidak. Menjadi kewajiban dan tugas orangtua mengajarkan agama kepada anak agar mereka tumbuh jadi pribadi yang sholih.

Menyekolahkan anak di sekolah Islam memang penting, tapi ini hanya jadi bagian kecil dari pendidikan Islam. Tempat belajar utama untuk tiap anak adalah keluarganya dan yang menjadi guru adalah orangtua.

Orangtua jadi teladan dalam mengajarkan agama ke anak

mengajarkan agama
Photo credit: Google

Cara paling efektif untuk mengajarkan apapun ke tiap orang adalah melalui contoh. Ini kenapa Allah mengirim manusia sebagai nabi ke seluruh manusia. Meski kita menerima tugas ini atau tidak, jadi fakta kalau anak belajar menjalani hidup dari melihat apa yang orangtua lakukan.

Ketika ayah menelantarkan keluarganya, misalnya, si anak akan memperlakukan keluarganya dengan cara yang sama.

Penguatan (reinforcement) positif VS negatif

mengajarkan agama
Photo credit: Google

Komentar dan penanganan negatif menyebabkan atribut negatif pada anak, dan komentar positif menghasilkan hasil positif.

Istilah reinforcement positif dan negatif populer di psikologi moderen, tapi ini didasarkan pada Al Qur’an dan tindakan serta ucapan Nabi Muhammad SAW, 1400 tahun lalu.

Bagaimana kita menggunakan reinforcement yang positif untuk mengajarkan agama ke anak? Anak kecil pada dasarnya baik. Mereka ingin membuat orangtua senang. Ketika Anda memuji anak karena perilaku yang baik dengan memberitahu kalau ayah dan ibu senang dengan tindakan mereka, Anda menggunakan reinforcement yang positif.

Sayangnya banyak orangtua mengabaikan tindakan baik anak dan hanya berkomentar pada tindakan buruk anak.

Penerapan ajaran Islam dalam kehidupan

mengajarkan agama
Photo credit: childmags.com

Satu aspek paling penting dari membesarkan anak sholih adalah mengajarkan agama dengan memperkenalkan ide bahwa Allah juga senang dengan tindakan baik mereka. Bila Anda mengatakan kalau apa yang anak lakukan membuat Anda dan Allah senang, maka anak mulai mengasosiasikan perilaku baik dengan tindakan untuk membuat Allah senang. Adakah yang lebih baik dari melakukan apapun di jalan Allah?

Baca juga  7 Tips Agar Anak Gampang Disuruh Tidur di Malam Hari

Anak yang melakukan kesalahan diampuni Allah, dan bila ia mati, ia otomatis masuk syurga. Ampunan Allah harus memandu kita ketika kita memandu anak.

Tidak perlu membuat anak takut pada Allah atau takut masuk neraka. Faktanya, pendekatan ini kontra produktif. Menekankan hal negatif membuat anak ingin menghindari apapun tentang agama.

Menyertakan Allah dalam setiap aktivitas

Photo credit: Google

Ketika Anda bicara pada anak di bawah usia 12 tahun, penekanan karakteristik Allah yang akan memberinya keamanan dan ketenangan ketika ia tumbuh dan bertemu situasi yang menakutkan. Ia perlu menyadari banyaknya rahmat Allah yang telah diberikan padanya untuk membantunya menikmati dan menjalani hidup. Dan ia perlu memahami tindakan mana yang Allah sukai, bukan cemas tentang hukuman untuk kesalahan yang ia perbuat.

Islam dan kehidupan sehari-hari

Photo credit: Google

Sering kali ketika orangtua berpikir tentang cara bicara ke anak tentang Islam, mereka konsentrasi pada rukun Islam. Orangtua mengajarkan anak bagaimana menjalankan sholat, dan mengajarkan beberapa surat pendek dari Al Qur’an.

Ini memang penting, tapi jangan lupa kalau Islam adalah jalan hidup, dan tiap aspek punya elemen Islami yang Anda perlu bahas dan tunjukkan ke anak.

Ketika ayah berangkat bekerja dan ibu berkata “sampai jumpa” atau mengatakan “assalamualaikum” dan menambahkan artinya dalam bahasa Indonesia, “semoga keselamatan menyertaimu.” Ketika ibu dan anak memulai melakukan aktivitas bersama, ia bisa ceritakan kalau ayah melakukan apa yang Allah minta, yakni bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Ibu dan ayah juga perlu sering menjelaskan, kalau mereka berusaha membuat Allah senang dengan melakukan banyak hal untuk membantu anak dan keluarga. Ketika anak membantu ibu membersihkan meja, ibu harus beritahu kalau Allah senang dengan anak yang membantu orangtuanya.

Baca juga  4 Tips Sukses Dalam Membangun List Building

Menyebutkan aspek Islami tidak berarti Anda harus memberi ceramah ke anak tentang Islam.

Tak ada anak yang mau duduk tenang cukup lama untuk mendengar ceramah tentang apapun. Pengajaran yang efektif berupa komentar pendek atau cerita yang mengarah pda tindakan Islami. Ketika orangtua membayar zakat, mereka perlu menceritakan ini ke anak.

Ketika mengunjungi orang sakit, mereka perlu mengutip ayat Al Qur’an atau hadits atau cerita tentang Nabi Muhammad yang menunjukkan tindakannya membuat Allah senang. Ketika ada dua cara untuk anak merespon situasi, orangtua bisa menjelaskan dengan baik yang mana yang akan membuat Allah senang.

Sering-seringlah merujuk ke Allah, memberi dorongan untuk berbuat baik, dan sering memberi pujian dan dukungan positif untuk tindakan baik. Ini akan membuat anak fokus di jalan yang benar.

Mengajarkan agama ke anak di masa remaja

Photo credit: Google

Ketika anak mencapai masa remaja, mereka mulai bertanya tentang apa yang telah diajarkan, terutama bila mereka tidak menjalankan ajaran keislaman. Bila Anda telah membangun hubungan positif dengan anak, maka si remaja akan datang ke Anda dengan pertanyaannya.

Jangan menganggap pertanyaan dan kecemasan ini sebagai pembangkangan terhadap Anda atau agama. Mereka melihat teman di sekolah berpacaran dan ini terlihat menyenangkan. “Kenapa saya tidak boleh pacaran?” pikiran ini muncul dalam diri mereka. Anda perlu bersenang hati karena anak merasa nyaman berbicara ke Anda tentang masalah ini.

Ketahui lebih banyak tentang Rahasia Mendidik Anak Sholeh dan Berkarakter Islami

Bila Anda belum memiliki hubungan positif dengan anak hingga saat ini, Anda mungkin akan menghadapi masalah besar, karena anak remaja Anda akan punya pertanyaan yang sama, tapi ia tidak akan datang ke Anda untuk mendiskusikannya.

Baca juga  Produk Digital Yang Perlu Kamu Ketahui

Ia akan mencari jawaban dari temannya, dan bila temannya tidak menjalankan ajaran Islam, ia mungkin akan mendapat jawaban yang bertentangan dengan Islam.

mengajarkan agama
Photo credit: Google

Kenapa beberapa orangtua dan anak punya hubungan positif sedang lainnya tidak? Ada setidaknya 2 faktor penting di sini, waktu dan jenis waktunya. Apakah orangtua menghabiskan waktu bersama anak ketika mereka tumbuh? Apakah mereka melakukan praktik bertanya ke anak tentang sekolah, teman , pendapat tentang banyak hal, dan lalu mendengarkan  jawaban mereka? Ingat reinforcement yang positif.

Baca juga tentang makanan untuk menurunkan berat badan.

Waktu seperti apa yang orangtua habiskan bersama anak? Apakah berupa reinforcement yang positif atau apakah anak mendengar kemarahan dan komentar negatif orangtua tiap kali mereka berusaha bicara pada orangtua?

Bila kita sebagai orangtua mengajarkan agama ke anak tapi memilih aspek Islam mana yang diterapkan dan mana yang dihindari dari kehidupan, kita tidak bisa berharap anak menjalankan ajaran Islam sepenuhnya.

Pertanyaannya adalah, siapa yang punya hak untuk memutuskan? Bila Allah yang punya hak untuk memutuskan, maka orangtua tidak punya hak untuk memilih praktik yang akan diikuti.

Bila individu yang memutuskan, maka anak punya hak seperti orangtua, setelah mereka mengalami masa puber.

Bila Anda menyadari tidak mengikuti perintah Allah, Anda bisa berusaha mengubah perilaku, mengakui ke anak kalau Anda masih berusaha, dan memberitahu mereka kalau Anda mencoba membantu mereka berada di jalan yang benar karena ini akan membuat hidup lebih baik dan lebih mudah.

 

Tinggalkan komentar